Senin, 23 Februari 2015

Kiat Memilih Pemimpin

Kiat Memilih Pemimpin
Di era reformasi ini, kehidupan manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang mana di usia dunia yang sudah menua ini, bahkan sudah mulai lapuk dan rapuh, mulai dari fenomena sosial dan fenomena hukum di negeri ini, yang merupakan perwujudan dari kultur kepribadian dari setiap individu, dan hingga membawa pada suatu kebiasaan-kebiasaan baik dan buruknya kultur tersebut kepada masyarakat pada umumnya. Pihak-pihak dari berbagai kalangan, baik kalangan bawah, menengah, keatas, birokrat, kapitalis, administrator dalam menjalankan fungsinya pada instrumen pemerintahan ini, yang cenderung banyak keluar, atau menyimpang dari standardisasi pemerintahan yang baik. Sistem normatif-nilai normatif yang telah mengikatnya seakan sudah diabaikan.
Hal tersebut hanyalah diwarnai oleh suatu keinginan yang tidak pernah puas dan selalu dalam ke arogansian para birokrat, kafitalis, administrator dan lain sebagainya yang menjalankan visi-misi dari pada praktek ketatanegaraan ini.Sehingga nampaklah negeri ini akan kehilangan kewibawaannya sebagai negara hukum yang adil dan demokratis itu.
Yang mana pada kalangan masyarakat awam sampai pada kalangan masyarakat yang tingkat pemikirannya sudah berada di level atas (berpendidikan tinggi), dalam tiap fenomena tesebut, baik dalam lingkup sosial maupun hukum yang ada di negeri ini sudah mulai dikuasai hanya oleh satu keinginan saja, yang mana dalam hal pemenuhan dari suatu keinginan tersebut telah banyak melibatkan berbagai pihak yang menyertainya. Dan bahkan berakibat hukum bagi tiap individu, birokrat, kapitalis, administrator  yang mana dalam hal upaya untuk mencapai dari suatu keinginan tersebut, seakan sampai saja melibatkan diri dari individu itu dan/atau para birokrat, kapitalis, adminstrator menjadi subjek dalam tuntutan hukumnya. Yang mana jika jiwa sudah mendarah daging senang berdusta, maka kemanapun diri itu dibawa ia akan terus berdusta.
Jika dalam hal dewasa ini kita hendak memilih seorang pemimpin, maka kita sebagai rakyat yang hanya dituntut untuk menentukan siapa yang akan kita pilih, itu sudah barang tentu akan dituntut dari dua tuntutan, yaitu tuntutan lahir dan tuntutan bathin.
Tuntutan lahir boleh dikatakan pada suatu keadaan nyata dari setiap individu itu, sedangkan tuntutan bathin adalah tuntutan yang bersumber dari suatu keyakinan pada tiap- tiap individu itu. Dari tuntutan lahir dan bathin yang akan menentukan suatu pilihan, akan menjadi faktor penentu dari suatu keputusan. Dan bahkan berkedudukan sebagai peran utama dalam menentukan segala bentuk keputusan.
Bisa dikategorikan sebagai acuan dasar dalam menentukan suatu pilihan yang dianggap paling utama dan bahkan dipandang oleh tiap individu tersebut adalah pilihan yang paling istimewa. Padahal menurut individu yang lainnya bisa saja tidak termasuk dalam kategori  yang menurut individu lain itu istimewa.
Hal ini akan sangat berpengaruh pada suatu keadaan dan keinginan seseorang  pada tiap individu tertentu dalam menentukan pilihannya.
Berkaitan dengan hal memilih pemimpin, yang mana pemimpin adalah, jika kita mempersonifikasikan dalam lingkup sebuah lingkungan kecil saja, seumpama dalam hal mengurus atau mengatur dalam kehidupan berumah tangga, yang mana seorang pemimpin itu adalah seorang Bapak dalam rumah tangga itu adalah akan sangat berpengaruh besar dalam perannya, dan sangat menentukan dalam mencapai segala hak dan kewajiban pada setiap anggota rumah tangganya. Begitu juga halnya dalam menentukan siapa yang akan berdiri memimpin
Politik, yang tidak kita sadari dewasa ini telah mempermainkan hukum. Dimana hampir setiap praksi politik telah mengatur siasat, strategi dalam persaingan hanya karena mengejar satu pilihan, yaitu minta dipilih dan sebagai terpilih. Dalam konteks ini, dimana para pemikir politik akan berperan menjadi seorang sutradara, dan para calon yang akan dipilih sebagai aktor yang merupakan pemeran utama, atau bintang, yang manjadi dambaan penonton yang menyaksikan permainan itu. Dimana dalam pertunjukan yang disutradarai oleh politisi yang ternama dan berpengaruh, maka penonton pun seakan terhipnotis oleh karena alur cerita(pembicaraan) politiknya yang begitu mengesankan, meyakinkan para penonton (masyarakat), dan pemerhati sekalian. Sehingga masyarakat pun mengakui dan memuja bintang (calon)tersebut, untuk patut memilih seorang aktor (bintang) itu.
Dari satu sisi ada pula permainan pemikir politik dengan cara mengobral janji disana-sini, dengan tujuan agar menjadi seorang yang terplih dalam kompetisi antar politisi tersebut. Peraturan perundangan dibuat, yang merupakan syarat formal seorang calon harus memenuhi kreteria, persyaratan sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan persyaratan menjadi seorang calon pemimpin, yang diantaranya adalah calon tersebut harus kaya, dengan syarat ketentuan sebagaimana dimaksud dalam peraturan yang mendasari hukumnya, dengan tujuan agar calon pemimpin tersebut kelak terpilih, karena calon tersebut sudah kaya, maka tidak akan berakibat calon tersebut berbuat menyalahkangunakan kewenangannya itu, yaitu KKN, Maladministrasi, dan Diskriminasi. Padahal secara logika saja, kita memperhatikan, berarti politik itu hanya ada bagi sekumpulan orang-orang yang jiwanya bergelut dalam pemikiran politik. “Yang mana pada intinya Politik itu berpijak pada dasar Pendidikan Tinggi, keinginan,  persaingan, Kekeluargaan, Kekayaan, dan jabatan”.
Nah jika pijakan diatas itu bisa terpenuhi oleh salah seorang calon maka berkemungkinan besar calon tersebut akan terpilih.  Apakah ada unsur lain yang diperlukan? Ada, tapi ini kemungkinan hanya sebagai pelengkap saja,dalam pandangan mereka, bukan merupakan yang diutamakan bagi calon itu. Akan tetapi dari unsur yang satu ini jika tidak ada maka akan sangat berpengaruh bagi ketentraman sebuah negara ini. Apa itu? yaitu Iman, Takwa, Jujur,  adil, dan Setia(ITJAS). Mengapa demikian? Karena jika unsur-unsur ini tidak ada tetanam di dalam jiwa seorang pemimpin ini, hanya karena mengutamakan unsur politik yang seperti disebut diatas itu, maka siapapun orang yang yang akan menjadi calon itu, jika terpilih, maka akan berakibat ketidaktentraman  di dalam kehidupan ini. Mangapa begitu?Karena yang ada dalam benak pikiran politisi itu hanyalah lebih mengutamakan keinginannya daripada kewajibannya.
Banyak orang-orang yang ada dibawah, yang malah berintegritas dan idealis yang sebenarnya patut untuk dicalonkan jadi seorang aktor bintang atau calon tadi, namun oleh karena mereka orang miskin, hanya memenuhi persyaratan yang ITJAS itu saja, maka oleh karena kelemahan mereka bersaing dalam politik tersebut,  mereka pun menyerah. Jadi,,, “Apakah Memilih Seorang Pemimpin Itu Harus Mengutamakan Kekayaan,kekeluargaan, dan suatu jabatan yang berkaitan sebagai pendukung bagi calon pemimpin? Itukah Yang Lebih Diuatamakan Sebagai kreteria Untuk Menjadi seorang pemimpin yang akan dipilih? Kakayaan itukah Yang Akan Menyelematkan Negeri Ini Dari Kemaslahatan Kehidupan Yang Sudah Serba Tidak Teratur Ini? Jawabnya adalah, tanyakan kepada diri kita sendiri, karena yang menentukan dan mempertimbangkan itu adalah diri kita sendiri, dan ingatlah jika kita salah/benar dalam memilih  calon pemimpin, maka kita sendiri yang akan mendapatkan akibatnya.
“Mancari jejak pahlawan yang hilang” , tulisan yang dikemukakan oleh sdr. Kita Muhammad Firhansyah SH, M.Kom. Tulisan tersebut memberikan sebuah moment, agar kiat-kiat kita dalam memilih seorang pemimpin itu hendaklah seperti apa yang dimuat di dalam tulisan Mencari Jejak Pahlawan yang Hilang. Dimana dalam tulisan tersebut mengungkapkan dambaan  terhadap pemimpin yang berintegritas berintegritas, idealis, jujur, adil dan terbuka terhadap rakyatnya. Mengapa demikian saudara?  Karena dewasa ini sangat sulit mencari seorang pemimpin yang betul-betul berjiwa Pancasila. Penulis berani mengatakan, diantara seribu manusia yang mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, yang jujur benar-benar jujur, dan adil itu hanya ada satu saja.
Bagi saudara-saudara sebangsa  dan setanah air, janganlah kalian terlalu berlebihan memuja seorang manusia yang menacalonkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin di negeri ini!!! Kalian telah dikelabui oleh harta dan argumentasi  mereka yang kaya dan pandai untuk memperalat kalian agar mereka bisa terpilih menjadi seorang pemimpin di negeri ini. Yang mana kelak jika mereka terpilih maka kalian tidak lagi menjadi perhatian mereka yang lagi asyik-asyik duduk dikursi dambaan itu. Apalagi jika sebaliknya tidak terpilih, maka yang kalian dapat hanyalah apa? Janji dan angan-angan saja.
“Ingatlah saudara sekalian,, kejujuran dan keadilan itu sangat sederhana sekali, tapi apakah kita sebagai manusia ini sudah jujur dan adil”. Jawabnya,,,, Beluuum,,,ada yang  mengaku, aku sudah jujur dan adil, dalam segi apapun, beluuum. Dan penulis pun  sama juga bukan orang yang mampu untuk jujur dan adil. Sadarkah kita yang setiap hari hanya berdusta dan berdusta ini, hanya karena keinginan nafsu birahi yang kita anggap itu benar dan baik, dan bahkan kita telah menjual ayat-ayat Tuhan oleh karena untuk mengutamakan privasi  kita agar dikenal sebagai pemimpin yang jujur dan adil. Sungguh seperti itukah diriku yang melihat kehinaan dan kezaliman prilaku yang kuperbuat selama ini. Apakah kita yang seperti itu layak untuk dipilih menjadi seorang pemimpin? Sangat tercela dan tercela diriku, jika aku terpilih menjadi seorang pemimpin, mangapa demikian saudara? Karena diriku lebih mengutamakan privasi dan keuangan yang menguasai diriku, bukan kewajiban dan tugasku yang kuutamakan disaat aku manjadi seorang pemimpin.
Jadi saudara sekalian, sebangsa dan setanah air. Mari Kita Bercermin Untuk Mengenal Diri, Agar Kita Dalam Memilih Seorang Calon Pemimpin, Kita Dapat Mengenali Siapa Yang Patut dan Pantas Untuk Kita Pilih dan Dijadikan Sebagai Pemimpin Dinegeri Ini. Pemimpin Sejati, Yang berbudi Luhur, Jujur, dan adil, serta Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pemimpin Yang Adil Hanyalah Pemimpin Yang Berserah Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa...
Penulis: Muhammad Murajani                                                             
Mahasiswa STIH Sultan Adam Banjarmasin
Email:muhammadmurjani@yahoo.com    &    murjaniombudsman@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar